Rasulullah Bermimpi Melihat Aisyah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Engkau (Aisyah) telah diperlihatkan padaku di dalam mimpi sebanyak dua kali.
Seorang laki-laki membawamu dalam balutan kain sutera seraya berkata, ‘Ini adalah isterimu.’ Maka aku pun menyingkap kain itu, dan ternyata di dalamnya adalah kamu (Aisyah).’
Maka aku pun berkata, ‘Jika ini dari Allah, niscaya Dia akan menjadikannya kenyataan.'”
(HR. Bukhari)

Rahasia Fatimah Yang Diceritakan Pada Aisyah

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari Fudhail bin Husain; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Firas dari ‘Amir dari Masruq dari ‘Aisyah dia berkata;
‘Suatu ketika para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkumpul dan berada di sisi beliau tanpa ada seorang pun yang tidak hadir saat itu. Tak lama kemudian, datanglah Fatimah dengan berjalan kaki yang mana cara jalannya persis -dan tidak berbeda sama sekali- dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika melihatnya, maka beliau pun menyambutnya dengan mengucapkan: “Selamat datang hai puteriku yang tercinta!” Setelah itu beliau mempersilahkannya untuk duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri beliau. Lalu beliau bisikkan sesuatu kepadanya hingga ia (Fatimah) menangis tersedu-sedu. Ketika melihat kesedihan hati Fatimah, maka sekali lagi Rasulullah pun membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia tersenyum gembira. Lalu saya (Aisyah) bertanya kepada Fatimah; ‘Ya Fatimah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan keistimewaan kepadamu dengan membisikkan suatu rahasia di hadapan para istri beliau hingga kamu menangis sedih.’ Setelah Rasulullah berdiri dan berlalu dari tempat itu, saya pun bertanya kepada Fatimah;
 ‘Hai Fatimah, sebenarnya apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu dalam bisikan tersebut? ‘ Fatimah menjawab; “Wahai Ummul mukminin, sungguh saya tidak ingin menyebarkan rahasia yang telah dibisikkan Rasulullah kepada saya.” Aisyah berkata; ‘Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, saya hampiri Fatimah seraya bertanya kepadanya; ‘Hai Fatimah, saya hanya ingin menanyakan kepadamu tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu yang dulu kamu tidak mau menjelaskannya kepada saya.’ Fatimah menjawab; ‘Wahai Ummul mukminin, sekarang -setelah Rasulullah meninggal dunia- saya akan memberitahukannya kepadamu. Dulu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membisikkan sesuatu kepada saya, untuk yang pertama kali, beliau memberitahukan bahwasanya Jibril dan beliau biasanya bertadarus Al Qur’an satu atau dua kali dalam setiap tahun dan kini beliau bertadarus kepadanya (Jibril) sebanyak dua kali. Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik pendahulumu adalah aku.’ Fatimah berkata; ‘Mendengar bisikan itu, maka saya pun menangis, seperti yang kamu lihat dulu. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kesedihan saya, maka beliau pun berbisik lagi kepada saya: ‘Hai Fatimah, maukah kamu menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau sebaik-baiknya wanita umat ini? Lalu saya pun tertawa seperti yang dulu kamu lihat.”
HR. Muslim

Ketika Aisyah Dan Fatimah Saling Bercanda

Telah menjadi tradisi Rasulullah apabila memiliki suatu acara makan-makan, beliau akan menyisihkan makanan itu untuk tetangga, kerabat, dan para sahabat. Tak terkecuali beliau menyisihkan pula untuk sahabat-sahabat mendiang istri pertamanya, Khadijah.
“Aisyah,” seru beliau kepada istri termuda dan tercantiknya, “sisihkan beberapa potong daging untuk sahabat-sahabat Khadijah.”
Mendengar nama Khadijah disebut oleh Rasulullah, sontak Aisyah bersungut-sungut. Jengkel. Jeuleus binti cemburu. Sangat manusiawi, bukan? Kalau tidak percaya bahwa cemburu seperti itu sangat manusiawi, bergurulah kepada Suhu Tanduk, konsultan Asosiasi Suami Sayang EMpat Istri (ASSEMI).
Begitu pula yang dirasakan Aisyah saat itu. Cemburu tingkat tinggi terhadap Khadijah karena namanya selalu disebut oleh Rasulullah.
“Apakah Kanda tidak bisa menerima dan mencintai saya sebagai ganti dari Khadijah? Apakah aku tidak lebih istimewa dari Khadijah sampai-sampai namanya selalu Kanda sebut di depan saya?”
Anda tentu tahu, sederet kata yang terjalin menjadi kalimat panjang itu adalah ungkapan kecemburuan Aisyah terhadap almarhumah Khadijah, istri pertama Rasulullah. Rasulullah menyambut kalimat panjang itu dengan senyum. Tetapi, kecemburuan justru Aisyah semakin melonjak.
“Khadijah itu tua dan tidak cantik, sementara aku cantik dan masih muda. Apakah Kanda tidak bisa melupakan wanita tua itu dan menempatkan aku di posisinya di hati Kanda?” demikian kurang lebih kalimat cemburu yang menyembur dari bibir Aisyah.
Ucapan itu ternyata terdengar oleh Fatimah, putri Khadijah. Sebagai anak tentu tidak terima nama ibundanya direndahkan dan disebut secara tidak baik oleh Aisyah. Terpaksa, akhirnya ia melakukan somasi kepada Rasulullah atas ucapan Aisyah tentang ibundanya.
“Fatimah, putriku, jika kamu tidak terima ibundamu tercinta yang juga istri pertamaku terkasih disebut-sebut secara tidak baik oleh Aisyah, hentikan ia segera,” terang Rasulullah.
“Bagaimana aku bisa menghentikannya, Ayah, sementara ia juga istri tercinta Ayah?”
Sembari menebarkan senyuman, beliau berkata, “Hentikan ia dengan bahasa ledekan dan guyonan. Ya, dengan ledekan dan guyonan!”
“Maksud Ayah?”
“Katakan kepada Aisyah, ‘bla…bla…bla.. ststststststststststs.”
Setelah mendapat memo tersebut dari Rasulullah, Fatimah segera menemui Aisyah.
“Wahai ibu mudaku,” seru Fatimah, “kamu adalah istri tercantik dan sangat dicintai oleh ayahku. Tetapi, perlu kamu ketahui, biarpun ibuku tua, janda, dan tidak secantik kamu, dia dinikahi oleh seorang perjaka. Sementara kamu, meskipun cantik, muda, dan berstatus perawan, tetapi dudalah yang menikahimu.”
Mendapat serangan “taktis, ledekis, & guyonis” dari Fatimah, bibir Aisyah tak mampu lagi membantah dan berargumentasi. Skak Mat! Menurut versi penerbit Prass Press disebut Jurus Ampuh Menaklukkan Kecemburuan Ibu Muda (bukan Menaklukkan Psikotes lho).
Meski dongkol, tetapi serangan itu membuat hati Aisyah geli segeli-gelinya. Lalu tertawa!
Skor 1-1 untuk Aisyah vs Fatimah.
Draw…!

Bermain Bersama Istri Itu Sunnah

Bermain Bersama Istri Itu Sunnah
Membangun kemesraan dalam rumah tangga sangat dianjurkan dalam islam. Salah satunya adalah ‘bermain’ dengan istri. Hampir semua permainan, tidak mengandung dzikrullah, dan tidak dianjurkan dalam dalam islam. Kecuali beberapa permainan, salah satunya bermain dengan istri.
.
Aisyah menceritakan,
.
Aku pernah ikut safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu aku masih muda, badannya belum gemuk dan bellum berlemak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh rombongan safar, “Silahkan kalian jalan duluan.”
.
Merekapun jalan duluan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku,
.
“Mari kita lomba lari. “
.
Akupun lomba lari dengan beliau dan aku bisa mengalahkan beliau.
.
Hingga setelah aku mulai gemuk, berlemak dan sudah lupa dengan perlombaan yang dulu, aku pergi bersama beliau untuk melakukan safar. Beliau meminta kepada rombongan, “Silahkan kalian jalan duluan.”
.
Merekapun jalan duluan.
.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku,
.
“Mari kita lomba lari”
.
Akupun lomba lari dengan beliau dan beliau bisa mengalahkanku.
.
Beliau tertawa dan mengatakan, “Ini pembalasan yang kemarin.” (HR. Ahmad 26277 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
.
Meskipun hadis ini bercerita tentang lomba lari, tapi itu bukan pembatasan. Hanya saja, yang pernah dipraktekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lari, karena itu yang paling memungkinkan.
.
Jika ini tidak memungkinkan dalam keluarga anda, bisa diganti dengan jenis permainan yang lain, misalnya petak umpet atau lompat tali atau gobak sodor, atau permainan sejenisnya. Yang jelas bukan gulat.
.
Semoga keluarga kita semua bahagia…
.
Allahu a’lam.
.

Kisah Rasulullah Yang Tidak Memberi Minum Aisyah

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perjalanan jihad fisabilillah diiringi para sahabat. Sementara itu di pintu gerbang kota Madinah, Aisyah r.a menunggu dengan rasa rindu.
Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di tengah kota Madinah. Aisyah r.a bahagia menyambut suami tercinta. Tiba di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat melepas lelah.
Aisyah di belakang rumah sibuk membuat minuman utk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu minuman itupun disuguhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau meminumnya perlahan hingga hampir menghabiskan minuman tersebut tiba tiba Aisyah berkata: “Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan hendak melanjutkan meminum habis air digelas itu. Dan Aisyah bertanya lagi, “Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?” Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebagian air yang tersisa di gelas itu, Aisyah r.a Aisyah r.a meminum air itu dan ia langsung kaget terus memuntahkan air itu.
Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Mungkin saking tergesa gesanya Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat salah masukin campuran, yang harusnya sari gula malah masukin sari garam. Kemudian Aisyah r.a lnsng meminta maaf kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Orang mukmin yg paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya,” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda: “Saling Berpesanlah kalian untuk memperlakukan Wanita dg Baik,
Karena sesungguhnya Wanita itu Diciptakan dari Tulang Rusuk, Dan Sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian Atasnya,
Jika engkau bersikeras untuk meluruskannya, Niscaya engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau biarkan, ia akan tetap bengkok (HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip
Belajar jadi suami yg baik akhlak dan agamanya, hanya untuk mendapat Ridho-Nya, untuk membawa istrinya menuju Jannah-Nya

#selalu baper disaat mendapati cerita tentang Rasulullah alaihi wasallam..
#tiada yg pantas di tiru selain Rasulullah alaihi wasallam..
#Rasulullah alaihi wasallam slalu Mesra dengan cara nya yg lemah lembut, arif dan bijaksana..
#MasyaAllah..

I ❤ Rasulullah alaihi wasallam..